ANALISA RISIKO

Statistik Keselamatan

Peringkat risiko gunung dunia berdasarkan rasio fatalitas — bukan daftar korban, melainkan data untuk pencegahan: penyebab kematian, insiden, dan pelajaran keselamatan dari sumber terverifikasi.

Dirangkum untuk pencegahan & kewaspadaan — bukan daftar korban. Buka tiap gunung untuk melihat penyebab kematian, insiden, dan pelajaran keselamatannya secara lengkap.

38 gunung dengan data keselamatan

  1. 1
    Nanga Parbat Pakistan Risiko tinggi

    Tabel rasio kematian 8000-an (data 8000ers.com), 1950 s/d Maret 2012: 335 summit / 68 wafat = 20,3% kematian per orang yang mencapai puncak. Nanga Parbat dijuluki 'Killer Mountain' — 31 orang tewas sebelum puncaknya pertama kali dicapai (Hermann Buhl, 1953). Termasuk salah satu 8000-an paling mematikan.

    20.3% rasio fatalitasper pendakian sukses 68wafat · 335summit
  2. 2
    Annapurna I Nepal Risiko tinggi

    Per Feb 2025: 559 summit / 75 wafat (Guinness World Records). Historis tercatat ~32% pada 2012 (analisis Eberhard Jurgalski, 1950–2012) — kerap disebut 8000-an paling mematikan.

    13.4% rasio fatalitasper pendakian sukses 75wafat · 559summit
  3. 3
    Dhaulagiri I Nepal Risiko tinggi

    Kumulatif sejak pendakian pertama 1960 s/d musim 2024: 691 pendakian sukses, 87 kematian tercatat (Wikipedia, kompilasi 8000ers/Himalayan Database). Rasio 12,6% = 87 dibagi 691, murni aritmetika dari dua angka bersumber — sumber tidak menyebut persentase langsung.

    12.6% rasio fatalitasper pendakian sukses 87wafat · 691summit
  4. 4
    K2 Pakistan Risiko tinggi

    Per Agustus 2023: ~800 summit / 96 wafat. Sebelum 2021 rasionya kira-kira 1 kematian untuk tiap 4 orang yang mencapai puncak (~25%); gelombang pendakian massal berpemandu terkini menurunkan rasio kumulatif. K2 kerap disebut 8000-an tersulit dan kedua paling mematikan.

    12% rasio fatalitasper pendakian sukses 96wafat · 800summit
  5. 5
    Manaslu Nepal Risiko tinggi

    Tabel rasio kematian 8000-an (data 8000ers.com via Wikipedia), 1950 s/d Maret 2012: 661 pendakian sukses / 65 wafat = 9,8% kematian per orang yang mencapai puncak. Manaslu (8.163 m, puncak tertinggi ke-8 dunia) tercatat sebagai salah satu 8000-an paling mematikan — pada 2008 disebut peringkat ke-4 setelah Annapurna, Nanga Parbat, dan K2. Longsoran salju adalah penyebab dominan.

    9.8% rasio fatalitasper pendakian sukses 65wafat · 661summit
  6. 6
    Kangchenjunga Nepal Risiko tinggi

    Himalayan Database (via kompilasi Wikipedia 'List of deaths on eight-thousanders') s/d Mei 2022: 52 kematian dari 532 summit — basis kematian-per-summit ≈ 9,8%; korban tercatat sejak upaya pertama 1905. Kangchenjunga tergolong salah satu 8000er PALING mematikan. Angka bisa berbeda menurut basis: artikel Wikipedia menyebut lebih dari 20% pendaki tewas sejak 1990-an (basis per-pendaki, era terkini), sementara Guinness World Records mencatat ~7,8% (54 dari 690 pendakian, basis per-pendakian). Perbedaan ini mencerminkan basis yang berbeda (summit vs percobaan vs pendaki), bukan pertentangan data.

    9.8% rasio fatalitasper pendakian sukses 52wafat · 532summit
  7. 7
    Gasherbrum I Pakistan Risiko tinggi

    Tabel rasio kematian 8000-an (data 8000ers.com, Eberhard Jurgalski) periode 1950 s/d Maret 2012: 334 pendakian sukses / 29 wafat = 8,7% kematian per orang yang mencapai puncak. Gasherbrum I (Hidden Peak, 8.080 m) tergolong menengah-tinggi di antara empat belas 8000-an — lebih mematikan dari tetangganya Gasherbrum II (2,3%), tetapi jauh di bawah K2 (~23%) atau Annapurna. Lokasi terpencil di jantung Karakoram, cuaca keras, dan medan gletser panjang (Icefall Gasherbrum) membuatnya salah satu 8000-an yang paling jarang didaki. Basis angka: kematian per orang yang berhasil ke puncak, bukan peluang tewas per satu percobaan.

    8.7% rasio fatalitasper pendakian sukses 29wafat · 334summit
  8. 8
    Makalu Nepal Risiko tinggi

    Tabel rasio kematian 8000-an (basis data 8000ers.com), 1950 s/d Maret 2012: 361 pendakian sukses ke puncak / 31 wafat = 8,6% kematian per orang yang mencapai puncak. Bila diukur sebagai 'climber death rate' (kematian per pendaki yang naik di atas base camp), angkanya 1,63%. Makalu (8.485 m, tertinggi ke-5 di dunia) memang tidak setinggi Annapurna atau K2 dalam rasio, tetapi tetap tergolong 8000-an berbahaya karena piramida batu-esnya yang curam, terekspos, dan terpencil.

    8.6% rasio fatalitasper pendakian sukses 31wafat · 361summit
  9. 9
    Shishapangma Tiongkok Risiko sedang

    Tabel rasio kematian 8000-an (data 8000ers.com) 1964 s/d Maret 2012: 302 pendakian sukses / 25 wafat = 8,3% kematian per orang yang mencapai puncak. Meski Shishapangma adalah 8000-an terendah (8.027 m) dan sering disebut 'termudah', lerengnya luar biasa rawan LONGSORAN SALJU akibat lapisan angin (wind slab). Himalayan Database mencatat 36 kematian per November 2025; longsoran 7 Oktober 2023 saja merenggut 4 nyawa dekat puncak.

    8.3% rasio fatalitasper pendakian sukses 25wafat · 302summit
  10. 10
    Broad Peak Pakistan Risiko sedang

    Tabel rasio kematian 8000-an (data 8000ers.com) 1957 s/d Maret 2012: 404 pendakian sukses / 21 wafat = 5,2% kematian per orang yang mencapai puncak — tergolong menengah di antara 8000-an. Namun korban absolut terus bertambah: Himalayan Database mencatat 39 kematian per November 2025, dengan banyak korban jatuh atau kehabisan tenaga saat TURUN (mis. tragedi 2013, 2021, 2022). Broad Peak dianggap salah satu 8000-an 'termudah' untuk didaki, tapi punggungan panjang menuju puncak membuat penurunan justru fase paling mematikan.

    5.2% rasio fatalitasper pendakian sukses 21wafat · 404summit
  11. 11
    Lhotse Nepal Risiko sedang

    Tabel rasio kematian 8000-an (data 8000ers.com, dihimpun Eberhard Jurgalski), 1950 s/d Maret 2012: 461 pendakian sukses ke puncak / 13 wafat = 2,8% kematian per orang yang mencapai puncak; sebagai 'climber death rate' (kematian per pendaki di atas base camp) angkanya 1,03%. Catatan basis: sumber lain menghitung korban dengan definisi berbeda — artikel Lhotse mencatat 'hingga Desember 2008, 371 orang mencapai puncak dan 20 tewas', sehingga total kematian bisa lebih tinggi tergantung cakupan; angka rate di atas mengikuti tabel 8000ers.com yang menyebut rasio secara langsung. Lhotse (8.516 m, tertinggi ke-4 di dunia) berbagi jalur pendekatan dengan Everest melewati Air Terjun Es Khumbu dan Western Cwm, lalu memisah di Lhotse Face yang curam menuju couloir puncak.

    2.8% rasio fatalitasper pendakian sukses 13wafat · 461summit
  12. 12
    Mount Everest Nepal Risiko sedang

    Himalayan Database (kompilasi Alan Arnette) s/d Desember 2025: 339 kematian dari 13.737 summit sepanjang 1921–2025 — basis kematian-per-summit (≈2,5%, setara ~1,06 kematian per 100 summit). Per-summit ini relatif RENDAH dibanding 8000er lain seperti K2 (~12%) atau Annapurna, meski jumlah korban absolut Everest tertinggi karena volume pendaki. 130 dari 339 korban (39%) adalah pekerja pendukung/Sherpa. Studi terbaru: mortalitas pendakian musim semi di rute standar turun dari ~3,0% (dekade awal) ke sekitar 0,8% (2024).

    2.5% rasio fatalitasper pendakian sukses 339wafat · 13.737summit
  13. 13
    Gasherbrum II Pakistan Risiko sedang

    Tabel rasio kematian 8000-an (data 8000ers.com, Eberhard Jurgalski) periode 1950 s/d Maret 2012: 930 pendakian sukses / 21 wafat = 2,3% kematian per orang yang mencapai puncak — salah satu rasio TERENDAH di antara empat belas 8000-an, jauh di bawah tetangganya Gasherbrum I (8,7%) apalagi K2 (~23%). Karena rute normalnya secara teknis paling ringan di antara 8000-an dan jumlah pendakinya banyak, Gasherbrum II (8.034 m) sering disebut 8000-an 'yang paling mudah didekati'. Meski demikian, rasio rendah bukan berarti aman: bahaya utamanya adalah longsoran dan seracs di Icefall Gasherbrum serta cuaca Karakoram. Basis angka: kematian per orang yang berhasil ke puncak, bukan peluang tewas per satu percobaan.

    2.3% rasio fatalitasper pendakian sukses 21wafat · 930summit
  14. 14
    Cho Oyu Tiongkok Risiko sedang

    Tabel rasio kematian 8000-an (data 8000ers.com, dihimpun Eberhard Jurgalski), 1950 s/d Maret 2012: 3.138 pendakian sukses ke puncak / 44 wafat = 1,4% kematian per orang yang mencapai puncak. Diukur sebagai 'climber death rate' (kematian per pendaki yang naik di atas base camp) angkanya 0,64% — rasio kematian-puncak terendah dari seluruh 14 gunung 8000-an (sekitar 1/25 rasio Annapurna). Cho Oyu (8.188 m, tertinggi ke-6 di dunia) sering disebut 8000-an 'termudah' karena lereng rute punggungan barat laut yang relatif landai dan aksesnya dekat pass Nangpa La — tetapi 'termudah' bukan 'aman': ia tetap gunung zona kematian (>8000 m) yang menuntut aklimatisasi penuh, dan justru rasa mudah itu bisa memicu kelengahan.

    1.4% rasio fatalitasper pendakian sukses 44wafat · 3.138summit
  15. 15
    Denali Amerika Serikat Risiko tinggi

    Studi High Altitude Medicine & Biology (2008): 96 kematian sepanjang 1903–2006, laju fatalitas 3,08 per 1.000 upaya pendakian (basis per-attempt). 45% akibat terjatuh, 61% terjadi saat turun, 92% laki-laki. Sistem registrasi wajib NPS sejak 1995 menurunkan fatalitas ~53%. Total kumulatif melampaui 130 kematian per 2026 (NPS). Sekitar 1.000–1.100 pendaki terdaftar tiap tahun; tingkat sukses puncak biasanya di bawah 50%.

    0.31% rasio fatalitasper percobaan tercatat 96wafat
  16. 16
    Aconcagua Argentina Risiko sedang

    Studi Wilderness & Environmental Medicine: dari 42.731 pendaki yang mencoba puncak sepanjang 2001–2012 tercatat 33 kematian — laju fatalitas 0,77 per 1.000 upaya (0,077%, basis per-upaya pendaki terdaftar layanan medis taman). Studi lanjutan 2013–2024 mencatat 21 kematian dari 29.397 pendaki (0,071%), dengan 90% kematian terjadi di atas 6.000 m dan risiko lebih tinggi pada pendaki >50 tahun. Lajunya lebih rendah dari Everest maupun Denali, tetapi lebih tinggi dari Rainier. Aconcagua adalah puncak tertinggi Belahan Bumi Selatan/Barat dan lazim didaki tanpa tali (jalur normal Barat Laut) — bahayanya bukan teknis, melainkan ketinggian ekstrem: tekanan udara puncak ~40% permukaan laut. Sekitar 3.000+ pendaki per musim (Nov–Feb); estimasi ranger tingkat sukses puncak hanya ~30–40%.

    0.08% rasio fatalitasper percobaan tercatat 33wafat
  17. 17
    Gunung Rinjani Indonesia Risiko sedang

    Data satu tahun (2025) dari Balai TNGR: 80.214 kunjungan pendakian, 3 pendaki meninggal — rasio kematian per kunjungan sangat rendah (0,004%), tapi ANGKA INI MENYESATKAN bila dibaca sendirian: pada tahun yang sama 58 pendaki terjatuh dan hanya 3 yang fatal. Bahayanya nyata (jatuh, hipotermia), tapi belum ada basis rate multi-tahun yang terstruktur untuk Rinjani. Sumber tunggal, indikatif.

    0% rasio fatalitasper percobaan tercatat 3wafat
  18. 18
    Mont Blanc Prancis Risiko tinggi

    Sebuah penilaian 1994 memperkirakan 6.000–8.000 pendaki telah tewas di Mont Blanc secara total sejak pendakian pertama 1786 — korban jiwa absolut tertinggi dari gunung mana pun di dunia (angka pada kartu adalah batas bawah estimasi tersebut, bukan hitungan pasti). Sekitar 20.000 orang mendaki tiap tahun; kematian tahunan modern berkisar 10–20 (mis. 14 tewas dari ~20.000 percobaan puncak pada 2017, 15 pada 2018). Karena jumlah percobaan per tahun besar dan periode pembilang/penyebut tidak selaras, laju fatalitas per-percobaan tidak dihitung di sini — daya rusak Mont Blanc terletak pada volume korban absolut dan bahaya objektif, bukan rasio yang tinggi.

    rasio tak tersedia 6.000wafat
  19. 19
    Gunung Tanigawa Jepang Risiko tinggi

    Sekitar 805 kematian terdokumentasi sejak awal 1930-an hingga Desember 2014 — jumlah korban terbanyak untuk satu gunung di dunia, tercatat di Guinness World Records. Sebagai perbandingan, sekitar 200 orang meninggal di Everest pada rentang waktu setara. Angka absolut, bukan fatality rate (penyebut jumlah pendakian tidak tercatat rapi).

    rasio tak tersedia 805wafat
  20. 20
    Matterhorn Swiss Risiko tinggi

    Sejak pendakian pertama 1865, lebih dari 500 pendaki tewas di Matterhorn — salah satu korban jiwa kumulatif tertinggi di Pegunungan Alpen. Rata-rata historis sekitar 12 kematian per tahun (estimasi akhir 1980-an s/d ~2015); dekade terakhir cenderung lebih rendah, sekitar 3–5 per tahun menurut sumber terkini. Jumlah pendakian per tahun tidak terdokumentasi secara resmi sehingga laju fatalitas per-summit tidak dapat dihitung secara sahih — angka di sini adalah korban absolut, bukan rasio.

    rasio tak tersedia 500wafat
  21. 21
    Mount Washington Amerika Serikat Risiko tinggi

    161 kematian tercatat sejak taman negara bagian NH mulai mendata pada 1849 (Presidential Range); sekitar 114 di antaranya terkait pendakian menurut basis data insiden White Mountain. Tidak ada jumlah pendaki/tahun yang tepercaya, jadi fatality rate tidak dihitung.

    rasio tak tersedia 161wafat
  22. 22
    Mount Hood Amerika Serikat Risiko sedang

    Lebih dari 130 kematian tercatat sejak pendakian fatal pertama tahun 1896 hingga 2002 (rekor sejak akhir abad ke-19). Sekitar 10.000 orang mencoba mendaki tiap tahun (per 2007), sehingga risiko per pendakian tergolong rendah-menengah meski jumlah korban absolut termasuk yang tertinggi di AS. Rate fatalitas per pendakian tidak dihitung karena sumber tidak menyediakan pembilang dan penyebut untuk satu periode yang sama — menghitungnya akan menyesatkan.

    rasio tak tersedia 130wafat
  23. 23
    Mount Rainier Amerika Serikat Risiko sedang

    Sekitar 84 orang tewas dalam kecelakaan pendakian di Mount Rainier pada 1947–2018 (≈89 kematian tercatat sejak 1897), rata-rata sekitar dua kematian per tahun akibat runtuhan batu-es, longsoran salju, terjatuh, dan hipotermia. Sekitar 10.000–11.000 orang mencoba mendaki tiap tahun (471.792 percobaan tercatat 1950–2022) dengan laju sukses puncak sekitar 50%. Karena volume percobaan sangat besar dan periode pembilang/penyebut tidak selaras, laju fatalitas per-percobaan tidak dihitung — risiko per orang kecil, tetapi bahaya objektif gletser sangat nyata.

    rasio tak tersedia 84wafat
  24. 24
    Aoraki / Mount Cook Selandia Baru Risiko tinggi

    Hampir 80 kematian pendakian di gunung ini sejak awal abad ke-20 s/d 2016 (dikutip dari New Zealand Geographic) — puncak tertinggi Selandia Baru dan yang paling mematikan; hampir tiap musim ada korban. Angka ini KUMULATIF (bukan laju per-summit): tak ada penyebut jumlah pendakian resmi, jadi persentase tak dihitung. Catatan basis: figur lebih besar '240+ kematian' mencakup SELURUH Taman Nasional Mount Cook (semua sebab, termasuk non-pendakian) dan tidak dicampur di sini. Studi akademik (Wilderness & Environmental Medicine) mencatat 33 kematian pendaki atas 52.906 malam-pondok = 0,62/1000 malam-pondok — basis berbeda, tak dapat disamakan dengan persen per-summit.

    rasio tak tersedia 80wafat
  25. 25
    Eiger Swiss Risiko tinggi

    Sekurang-kurangnya 64 pendaki tewas di dinding utara (Nordwand) sejak 1935 — angka KUMULATIF, bukan laju per-summit; tak ada penyebut jumlah pendakian tercatat, jadi persentase fatalitas tak dapat dihitung. Reputasi mematikan terpusat di dinding utara, bukan rute normal (flank barat) yang jauh lebih ringan.

    rasio tak tersedia 64wafat
  26. 26
    Grand Teton Amerika Serikat Risiko tinggi

    46 kematian aktivitas backcountry di Taman Nasional Grand Teton, 1997-2014 (studi George & Michelle Montopoli; kelanjutan analisis 1925-1996). Denominator jumlah pendaki tidak dipublikasikan seragam, sehingga fatality rate tidak dihitung agar tidak mengekstrapolasi.

    rasio tak tersedia 46wafat
  27. 27
    Half Dome Amerika Serikat Risiko sedang

    Studi tinjauan (Richardson & Spano, Wilderness & Environmental Medicine 2018) mencatat 31 kematian (29 terkonfirmasi + 2 kemungkinan) di Half Dome sepanjang ±85 tahun (kematian terawal 1930). Ini mencakup semua aktivitas — panjat tebing teknis 36%, kematian non-kecelakaan 26%, jalur kabel 16%, mendaki 16%, base jumping 6% — jadi jumlah kecelakaan pendakian murni lebih kecil. Usia rata-rata 32±14 tahun. Angka absolut, bukan fatality rate.

    rasio tak tersedia 31wafat
  28. 28
    Gunung Sinabung Indonesia Risiko tinggi

    Sinabung adalah gunung api aktif yang TERTUTUP untuk pendakian sejak reaktivasi 2010. Sedikitnya 23 kematian sejak 2014 berasal dari erupsi & aliran piroklastik yang mengenai orang di dalam zona bahaya ("zona merah"), bukan dari kecelakaan mendaki. Ini bukan fatality rate pendakian — tidak ada basis summit/attempt. Pelajaran keselamatan: patuhi radius larangan PVMBG dan status aktivitas.

    rasio tak tersedia 23wafat
  29. 29
    Whakaari / White Island Selandia Baru Risiko tinggi

    Whakaari / White Island adalah gunung api paling aktif di Selandia Baru (Teluk Plenty) dan sebuah destinasi wisata kawah — bukan pendakian ketinggian. Bahaya utamanya adalah LETUSAN FREATIK (didorong uap) yang bisa terjadi dengan sedikit atau tanpa peringatan. Pada 9 Desember 2019, letusan freatik mendadak menewaskan 22 dari 47 orang yang berada di pulau saat itu, dan seluruh 47 orang mengalami luka serius — mayoritas luka bakar kritis. Saat letusan, Tingkat Peringatan Vulkanik berada di level 2 (dinaikkan dari 1 pada 18 November 2019) dan kunjungan wisata masih diizinkan. Karena letusan bersifat episodik dan tak dapat diprediksi, tidak ada laju fatalitas per-kunjungan yang bermakna — angka 22-dari-47 adalah proporsi korban dalam satu peristiwa, BUKAN tingkat kematian tahunan. Framing = pencegahan: patuhi tingkat peringatan vulkanik, pahami bahwa level 2 tetap berisiko letusan tanpa aba-aba, dan jangan memasuki area kawah saat unrest meningkat.

    rasio tak tersedia 22wafat
  30. 30

    21 kematian pendaki tercatat di registri otopsi rumah sakit rujukan KCMC (Moshi) sepanjang Januari 2016–Desember 2017; 17 di antaranya meninggal saat masih mendaki. Otoritas taman nasional tidak mempublikasikan jumlah pendaki resmi, sehingga TIDAK ada penyebut yang bisa dipakai — angka ini jumlah absolut, bukan rasio, dan mungkin belum mencakup semua kasus. Sebagai pembanding morbiditas: studi kohort prospektif 2019–2020 mencatat gejala penyakit ketinggian berat pada 8,6% dari 1.237 pendaki rekreasi (1,1% perlu rawat inap).

    rasio tak tersedia 21wafat
  31. 31
    Mount Kinabalu Malaysia

    Kinabalu (4.095 m, puncak tertinggi Asia Tenggara yang bisa didaki jalan kaki) adalah pendakian terpandu dua hari; kematian sangat jarang dalam operasi normal. Korban jiwa terbesar terjadi dalam SATU peristiwa: gempa 6,0 SR pada 5 Juni 2015 memicu longsoran batu yang menewaskan 18 orang. Angka 18 ini bukan rate tahunan. Lebih dari 29.000 pendaki naik tiap tahun (per situs resmi), tetapi tidak ada total kematian agregat yang terdokumentasi sehingga rate fatalitas tidak dapat dihitung.

    rasio tak tersedia 18wafat
  32. 32
    Gunung Fuji Jepang Risiko rendah

    Basis: ~221.000 pendaki musim panas 2023 dengan 4 kematian pada musim resmi (data polisi Prefektur Shizuoka & Yamanashi) — risiko per-pendaki rendah (jauh di bawah 0,01%) SELAMA musim resmi. PERINGATAN: jalur resmi tutup awal September–awal Juli; pendakian luar musim jauh lebih mematikan (suhu puncak hingga −20°C, tanpa pondok & tim SAR di gunung). Rasio ini tidak berlaku untuk luar musim.

    rasio tak tersedia 4wafat
  33. 33
    Ama Dablam Nepal Risiko sedang

    Ama Dablam (6.812 m), sering dijuluki 'Matterhorn Himalaya', adalah puncak berizin ketiga terpopuler di Nepal. Jalur South West Ridge kini banyak dipasang tali tetap sehingga secara teknis lebih terkelola dibanding era 1980-an, TETAPI bahaya utama bersifat OBJEKTIF: gletser gantung 'Dablam' yang menggantung di atas Camp III. Runtuhan serac pada 13–14 November 2006 menewaskan enam pendaki dan mengubah praktik — kini banyak tim memakai dua kamp, bukan tiga, untuk memangkas waktu paparan. Tidak ada sumber yang menerbitkan laju fatalitas per-summit resmi, sehingga rasio tidak ditampilkan; kematian terkonsentrasi pada bahaya objektif (serac/es jatuh) dan terjatuh di punggungan terjal saat turun. Data bersifat indikatif dari kompilasi insiden bersumber.

    rasio tak tersedia
  34. 34
    Cotopaxi volcano Ekuador Risiko sedang

    Tidak ada statistik fatalitas terstruktur (laju kematian per jumlah pendakian) yang dipublikasikan untuk Cotopaxi, sehingga angka bersifat indikatif — bukan laju resmi. Kecelakaan pendakian paling mematikan yang tercatat adalah longsoran salju 1996 yang menewaskan 13 orang di sekitar Refugio José Rivas (~4.800 m); perkiraan informal menyebut sekitar 1–2 kematian pendaki per tahun. Bahaya utama: longsoran salju dan runtuhan es di lereng gletser (terutama di bawah dinding batu Yanasacha), jatuh ke celah gletser (crevasse) di rute puncak, penyakit ketinggian di 5.897 m, ditambah status gunung api aktif — letusan 1877, 2015, dan 2022 memicu penutupan taman nasional.

    rasio tak tersedia
  35. 35
    Kawah Ijen Indonesia Risiko sedang

    Kawah Ijen (kompleks gunung api Ijen, Jawa Timur, ±2.386 m) terkenal dengan 'blue fire' dan danau kawah paling asam di dunia (pH ~0,1–0,5, asam sulfat pekat). Bahaya utamanya BUKAN ketinggian melainkan GAS VULKANIK BERACUN (SO2/H2S): ledakan gas menewaskan 49 penambang pada 1976 dan 25 pada 1989 (UCL), dan letusan freatik 21 Maret 2018 memapar sekitar 30 orang — 24 dirawat di rumah sakit — serta memicu evakuasi tiga dusun dan penutupan kawah. Penambang belerang tradisional (±200 orang) bekerja nyaris tanpa alat pelindung diri dan disebut memiliki harapan hidup ≤50 tahun. Tidak ada laju fatalitas per-pengunjung yang terstruktur, sehingga data bersifat indikatif; framing = pencegahan (masker/respirator, perhatikan arah angin, patuhi status & penutupan PVMBG). 'Tahun-tahun tenang' TIDAK berarti aman.

    rasio tak tersedia
  36. 36
    Mount Elbrus Rusia Risiko tinggi

    Sumber pendakian melaporkan rata-rata 15–20 kematian per tahun (sumber lain menyebut 15–30). Tidak ada jumlah pendaki per tahun yang tepercaya, sehingga fatality rate tidak dihitung; angka disajikan sebagai indikatif, bukan rasio pasti.

    rasio tak tersedia
  37. 37
    Villarrica Volcano Cile Risiko sedang

    Tidak ada statistik fatalitas pendaki terstruktur untuk Villarrica; kematian pendaki terdokumentasi sebagai insiden individual (mis. 2016 dan 2025), umumnya akibat tergelincir atau jatuh di lereng es menuju kawah — beberapa terjadi saat mendaki tanpa pemandu di jalur tidak resmi. Karena itu angka bersifat indikatif, bukan laju resmi. Villarrica adalah salah satu gunung api paling aktif di Amerika Selatan dengan danau lava permanen; bahaya letusan (lahar 1964 menewaskan 27 warga; gas beracun 1971–72 menewaskan sedikitnya 15) dan siklus siaga (letusan 2015 mengevakuasi 3.385 orang; siaga oranye 2023) menuntut pemantauan SERNAGEOMIN dan pemandu bersertifikat.

    rasio tak tersedia
  38. 38
    Volcán de Fuego Guatemala Risiko tinggi

    Volcán de Fuego (3.763 m, Guatemala) adalah salah satu gunung api paling aktif di Amerika Tengah — meletus nyaris terus-menerus sejak Januari 2002, dengan tipikal 3–4 letusan besar (paroxysm) per tahun dan puluhan ledakan kecil per hari. Fuego umumnya didaki atau disaksikan dari jarak dekat lewat gunung tetangga, Acatenango. Bahaya utamanya adalah ALIRAN PIROKLASTIK, lontaran batu balistik, hujan abu, dan lahar — dan letusan paroksismal bisa meningkat lebih cepat daripada rantai peringatan manusia. Pada 3 Juni 2018 aliran piroklastik menewaskan ratusan orang di komunitas lereng bawah (bukan pendaki): CONRED mencatat 110 tewas dan 197 hilang per 12 Juni 2018, sementara kompilasi lain menyebut sedikitnya 190 tewas dan 256 hilang per akhir Juli 2018 — bencana gunung api paling mematikan di Guatemala dalam lebih dari satu abad. Tidak ada dataset resmi korban PENDAKI, sehingga angka kematian di sini adalah korban komunitas lereng bawah, bukan laju fatalitas pendakian. Framing = pencegahan: evakuasi dini, hormati zona larangan & barranca (jurang aliran), dan pahami bahwa letusan bisa datang tanpa aba-aba yang cukup.

    rasio tak tersedia