CERITA NYATA

Pengalaman Pendakian

Kumpulan pengalaman pendakian tangan pertama dari seluruh dunia — vlog, blog, dan catatan perjalanan nyata, lengkap dengan tautan sumber yang bisa kamu telusuri sendiri.

9.342 pengalaman lintas gunung · hal 112/390

Empakai Crater

Video lapangan yang menyorot Kawah Empakaai di Kawasan Konservasi Ngorongoro — pemandangan tepi kawah, danau soda, dan suasana pendakian di dalam kaldera.

Our Safari Honeymoon Vlog — Empakaai Crater (Day 4)

Vlog bulan madu yang pada hari keempat safari turun ke Kawah Empakaai, memperlihatkan jalur menurun lewat hutan lereng kaldera dan danau berflamingo di dasarnya.

The Great Rift Valley Trek - Empakai to Lake Natron

Rekaman trek multihari melintasi Rift Valley yang berangkat dari tepi Kawah Empakaai lalu menuruni dataran tinggi kawah menuju Danau Natron, menegaskan peran Empakaai sebagai titik awal ekspedisi Crater Highlands.

Sare Firasu Hill (highest point in Gambia)

Halaman penanda lokasi berbasis citra satelit Google yang mengarahkan langsung ke titik Sare Firasu Hill di Upper River Division dan mengategorikannya sebagai 'Geographic Extremes' dengan elevasi 51 m (167 kaki). Catatan yang menyertainya menegaskan status khas tempat ini: titik tertinggi nasional terendah di Afrika sekaligus titik tertinggi nasional terendah di dunia untuk negara yang berada di daratan benua. Kegunaan praktisnya sederhana tetapi nyata — sebelum berangkat, pengunjung bisa melihat sendiri dari citra udara bahwa di sekitar koordinat itu tidak ada tebing, tidak ada punggungan, dan tidak ada jalan menuju 'puncak'; yang tampak hanya petak-petak ladang, jalan tanah desa, dan pola vegetasi savana.

High hills in The Gambia

Rekaman dari kanal lokal Nice Gambia (diunggah 17 Desember 2024) yang memperlihatkan bagaimana rupa 'perbukitan tinggi' di Gambia dalam pengertian orang setempat — punggungan rendah, tebing tanah kemerahan, dan pandangan lepas ke savana. Ini bukan video Sare Firasu Hill dan tidak mengklaim demikian, jadi jangan diperlakukan sebagai dokumentasi titik tertinggi. Manfaatnya adalah kalibrasi ekspektasi: pengunjung yang membayangkan 'gunung' akan langsung paham bahwa relief di Gambia berupa gelombang lembut dataran banjir dan tebing tepian sungai, sehingga menemukan titik tertinggi negara memang mustahil dilakukan tanpa GPS. Kanal yang sama juga punya rekaman perbukitan di Bansang, Central River Region, untuk perbandingan.

Gambia's Tallest & Highest Point, Peak, Mountain

Video pendek yang tayang perdana 5 November 2022 dari Francis Tapon, pengelana yang menyusuri titik-titik tertinggi negara-negara Afrika. Tayangan ini membahas anomali geografis Gambia: sebuah negara yang 'puncak tertinggi'-nya hanya sekitar 50 meter, sehingga menjadi titik tertinggi nasional terendah di Afrika. Perlu dicatat secara jujur bahwa video ini bukan dokumentasi pendakian ke koordinat Sare Firasu Hill dan tidak menampilkan pengukuran; nilainya terletak pada pembingkaian — mengapa 'gunung tertinggi' di negara pesisir berdataran rendah nyaris tak terlihat sebagai bukit, dan mengapa penetapannya perlu instrumen, bukan mata. Gunakan sebagai pengantar visual, lalu lanjut ke catatan survei Gilbertson untuk data yang sebenarnya.

The Saga of Red Rock: Discovering The Tallest Hill In The Gambia?

Investigasi media Gambia sendiri, ditulis Foday Manneh dan terbit Desember 2022, tentang klaim lama bahwa titik tertinggi negara itu adalah 'Red Rock' setinggi 53 m di daerah Wuli, Upper River Region. Temuannya justru sebaliknya: lokasi persis Red Rock tidak pernah bisa dipastikan siapa pun. Pada November 2021 serombongan wisatawan dari Skotlandia dan Inggris datang mencarinya ditemani reporter TAT; di desa Beriffu (Wuli East) tak ada yang bisa menunjukkan buktinya, lalu seorang warga mengarahkan mereka ke Nyakoi Madina di Wuli West. Di sana mereka dibawa ke sebuah bukit kemerahan yang dari puncaknya nyaris seluruh sudut wilayah termasuk Sungai Gambia terlihat, dan di atasnya berdiri tugu bertuliskan 'GP34 – 1969'. Kemo Camara, warga berusia 80-an yang dulu ikut mengantar dua orang Eropa itu, mengingat mereka menyebut diri diutus pemerintah Britania untuk survei perbukitan dan meminta warga membangun pilar di tiap titik yang mereka tandai. Artikel ini juga merekam sisi tuturan lisan desa — kisah bentrok dengan 'Jinn' yang membuat Nyakoi Madina pindah dari permukiman lamanya di balik pohon-pohon baobab. Bagi pembaca cacumen, nilainya ganda: memperlihatkan bagaimana sebuah klaim geografis bertahan puluhan tahun tanpa dasar ukur, sekaligus memperlihatkan bahwa minat wisata terhadap 'bukit tertinggi Gambia' tumbuh di tingkat desa, bukan di titik yang belakangan terbukti tertinggi.

Determination of new national highpoints of five African and Asian countries, Saudi Arabia, Uzbekistan, Gambia, Guinea-Bissau, and Togo

Makalah ilmiah yang mengubah cerita perjalanan tadi menjadi data yang bisa diuji. Penulis menjelaskan bahwa sebelum studi ini ada 14 negara di dunia yang titik tertingginya masih ambigu, dan lima di antaranya diselesaikan lewat survei darat 2018–2025 memakai GPS diferensial dan Abney level — termasuk Gambia. Untuk pembaca yang datang mencari angka, di sinilah semuanya tersedia: tabel elevasi DEM keempat kandidat (Google Earth 61–65 m, floodmap 63–68 m, Gaia 61–67 m, topographic-map 55–61 m) berhadapan dengan hasil ukur lapangan yang jauh lebih rendah — Sare Firasu Hill 50,905 m ±0,067; Sare Doulde Hill 48,64 m ±0,085; Sare Bala Hill 47,421 m ±0,198; Sare Bissou Hill 45,702 m ±0,05 — lengkap dengan koordinat masing-masing. Makalah ini juga merekam alasan lama mengapa angka 53 m beredar: survei darat 1966 dan 1976 hanya mengukur Sare Bala Hill dan memakai datum Banjul PWD BM4 tanpa melaporkan batas galat. Pelajaran praktisnya untuk siapa pun yang membaca peta topografi negara berdataran rendah: DEM satelit di sini melebih-lebihkan tinggi sekitar 10–17 meter, jadi tidak bisa dipakai untuk memutuskan titik tertinggi.

The Gambia Highpoint

Ini satu-satunya catatan kunjungan rinci ke titik tertinggi Gambia yang bisa diverifikasi, dan isinya jauh lebih menarik daripada sekadar 'mendaki bukit 51 meter'. Eric Gilbertson menceritakan persiapan bertahun-tahun: membeli akses ke survei darat Soviet 1981 dan dua peta militer AS, meminta seorang kawan meminjam buku 'African Boundaries' dari perpustakaan universitas untuk memastikan definisi perbatasan, sampai mengirim ekspres peta Britania 1:50.000 tahun 1975 sebelum berangkat. Perjalanan Maret 2020 batal karena pandemi dan baru terlaksana Desember 2021 bersama Serge dan Kahler. Mereka menyewa sopir lokal, Pepe, seharga 70 USD per hari — pilihan yang dijelaskan bukan karena kemewahan melainkan karena sopir setempat menekan risiko pemerasan di pos polisi dan tahu jalan mana yang bisa dilewati. Tanggal 17 Desember mereka mengukur Sare Bala Hill dan Sare Doulde Hill, 18 Desember Sare Firasu Hill dan Sare Bissou Hill, masing-masing satu jam penuh dengan Trimble GeoXR pinjaman dari Compass Data. Bagian paling hidup adalah detail manusianya: petani Gambia yang mengajak berfoto dengan keledainya, seorang ayah yang membawa lima anak sekaligus di satu sepeda motor, pemilik ladang bernama Asman yang justru bercerita panjang soal panen cous cous dan kacang tanah sampai satu jam pengukuran habis, dan pemilik hotel di Vélingara yang — setelah nama 'Fass Bojang' ditulis di kertas — memastikan desa itu wilayah Gambia sehingga status bukit ini akhirnya jelas. Pembaca juga mendapat gambaran nyata betapa datarnya lokasi: tanah rata dengan variasi sekitar 10 cm, dan gundukan rayap yang sengaja tidak dihitung sebagai titik tertinggi.

my trip to Gabú east of Guine Bissau

Rekaman perjalanan seorang warga menuju Gabú, region di timur Guinea-Bissau yang menaungi Setor Madina do Boé dan Monte Torin. Sekali lagi ini bukan konten pendakian, melainkan gambaran jujur tentang kondisi jalan, desa, dan bentang sabana yang harus ditempuh untuk sampai ke sisi timur negeri ini. Berguna untuk mengukur ekspektasi logistik: dari Gabú, perjalanan masih berlanjut jauh ke selatan menuju Boé lewat jalan tanah dan penyeberangan Rio Corubal sebelum bukit tertinggi itu bisa didekati sama sekali.

Madina do Boé o palco da proclamação da nossa identidade — dokumenter RTB

Dokumenter berbahasa Portugis dari Radio TV Bantaba tentang Madina do Boé, ibu kota sektor tempat Monte Torin berada. Fokusnya sejarah, bukan gunung: Madina do Boé adalah panggung tempat kemerdekaan Guinea-Bissau diproklamasikan, dan sempat menjadi ibu kota de facto sebelum Bissau mengambil alih pada 1974. Menonton ini membantu memahami mengapa nama "Boé" begitu sarat makna di Guinea-Bissau — jauh lebih dikenal sebagai simbol kemerdekaan ketimbang sebagai kawasan berbukit tertinggi negeri itu — sekaligus memperlihatkan wajah permukiman dan lanskap sektor tersebut.

Camera trap captures chimpanzees around the future Boé National Park, Guinea-Bissau

Rekaman kamera jebak yang diterbitkan IUCN Save Our Species dari kawasan yang saat itu masih calon Taman Nasional Boé. Video ini menegaskan konteks konservasi di sekitar Monte Torin: populasi simpanse yang diperkirakan 1.000–1.500 ekor inilah yang mendorong pemerintah Guinea-Bissau meresmikan taman nasional pada 28 Juni 2017. Bagi pengunjung, implikasinya praktis — kawasan ini bukan lahan bebas untuk dijelajahi sesuka hati, dan status kunjungan sebaiknya dikonfirmasi ke otoritas serta komunitas setempat.

A short documentary based on several trap-camera videos of chimpanzees in the Boé, Guinea Bissau

Dokumenter pendek Yayasan Chimbo yang dirangkai dari rekaman kamera jebak di kawasan Boé — sektor yang sama tempat Monte Torin berdiri. Isinya bukan pendakian, melainkan alasan utama mengapa kawasan ini penting: simpanse Afrika Barat yang hidup di lembah-lembah sungai berhutan di sela plateau sabana. Berguna sebagai gambaran visual vegetasi dan bentang plateau Boé yang akan dilewati siapa pun yang mendekati puncak, sekaligus pengingat bahwa area di sekitar titik tertinggi negara ini adalah habitat satwa yang dilindungi sejak Taman Nasional Boé diresmikan pada 2017.

You'll Never Guess What's At The Summit Of The Tallest Mountain of Guinea Bissau

Kolom perjalanan Francis Tapon di Forbes, sumber tertulis lain yang benar-benar berdiri di puncak ini — dan waypoint InReach-nya kemudian dipakai tim Gilbertson sebagai satu-satunya beta rute yang mereka punya. Nada tulisannya sengaja antiklimaks: pendakian menyusuri jalur berlumpur, naik sebentar, mendatar, lalu naik landai lagi, seluruhnya kurang dari satu jam dari kaki. Yang ditemukannya di atas bukan panorama melainkan beberapa rumah beratap jerami tempat seorang perempuan tinggal bersama tiga anaknya, sedang mengumpulkan kotoran sapi dengan tangan telanjang untuk bahan bakar memasak. Perempuan itu heran ada orang jauh-jauh datang demi "bukit berlumpur penuh kotoran sapi", dan tampaknya tidak tahu ia tinggal semenit dari titik tertinggi negaranya. Detail lain yang khas: pemandu Tapon sempat menganggap cukup berhenti "dekat puncak" karena selisihnya hanya sekitar lima meter vertikal. Ini gambaran paling gamblang bahwa titik tertinggi Guinea-Bissau adalah tanah pertanian yang dihuni orang, bukan tujuan pendakian.

Guinea-Bissau Highpoint — Mt Ronde (266 m), 26–27 Desember 2021

Catatan tangan pertama paling lengkap yang ada tentang puncak ini, dan sekaligus yang paling jujur soal ketidakpastian datanya. Eric Gilbertson menjelaskan bahwa Guinea-Bissau belum pernah disurvei cukup teliti untuk memastikan titik tertingginya, lalu membandingkan data SRTM, survei darat Soviet 1981, peta militer AS, serta beberapa model elevasi digital — dan menyimpulkan ada dua kandidat dalam rentang galat SRTM (hingga 16 m): satu dekat Cape Bonde, satu dekat Vendu Leidi. Ia lalu membawa GPS kelas survei Trimble Geo XR dengan antena Zephyr 2 (akurasi vertikal hingga 3 cm untuk pengukuran satu jam) ke keduanya. Bagian paling berguna bagi calon pengunjung adalah narasi aksesnya: navigasi coba-coba dari Wendou M'Bour di Guinea, bertanya arah di tiap desa menuju Siguira lalu Lagui, jalan yang sempat buntu di tepi sungai, tanjakan lumpur berbekas roda dalam, tumpangan seorang warga desa yang menjadi penunjuk jalan, hingga menyeberangi sungai kecil penanda batas negara. Dari mobil yang diparkir di sebuah lapangan, pendakiannya sendiri sepele — menembus rumput lebat lalu hutan makin terbuka, muncul di plateau berbatu yang datar dan lapang, dan menemukan cairn yang sudah ada persis di koordinat tertinggi. Ada juga peringatan nyata: sehari sebelumnya, di kandidat puncak yang lain, rombongan dicegat patroli militer bersenjata dan harus membayar sejumlah uang sebelum dilepaskan.

Mali : falaise de Bandiagara, habitat dogon

Arsip televisi Prancis (INA) tentang habitat Dogon di falaise Bandiagara. Nilainya terletak pada kedalaman waktu: rekaman arsip memperlihatkan kampung dan bangunan sebelum gelombang pariwisata besar maupun sebelum konflik, sehingga bisa dibandingkan dengan foto-foto blog era 2008–2010 dan dengan kondisi hari ini. Bagi yang ingin melacak bagaimana bentang budaya ini berubah — mana yang bertahan, mana yang hilang — sumber berbahasa Prancis seperti ini adalah pelengkap penting, mengingat literatur ilmiah dan etnografis utama tentang Dogon memang sebagian besar berbahasa Prancis.

The Unique Cliffside Homes Of Mali's Dogon People | Land of the Dogon

Dokumenter perjalanan yang berfokus pada hunian tebing — bagian paling ikonik sekaligus paling sulit dipahami dari falaise Bandiagara. Video ini membantu menjawab pertanyaan yang selalu muncul di catatan pendaki: bagaimana bangunan-bangunan itu bisa berdiri di dinding vertikal, siapa yang membangunnya, dan mengapa orang Dogon membiarkannya tetap ada alih-alih menempatinya. Ditonton berdampingan dengan blog trek, video ini melengkapi gambar yang tak bisa disampaikan teks: skala tebing dibanding manusia, jalur sempit di antara batu, dan tekstur bangunan banco yang menyatu dengan warna batupasir.

The Dogon of Mali: A Vanishing Way of Life and a World Heritage in Peril (Documentary, 2012)

Dokumenter penuh tahun 2012 yang tepat mengambil momen ambang: dibuat pada tahun konflik Mali pecah, dengan judul yang sudah menyebut warisan dunia ini 'in peril'. Ini rujukan visual terbaik untuk memahami mengapa falaise Bandiagara diakui UNESCO bukan sekadar karena tebingnya, melainkan karena sistem hidup yang menempel padanya — kampung, lumbung, sanktuari, dan ritual yang saling mengunci dengan bentang alam. Bagi pembaca Indonesia yang ingin melihat seperti apa sebenarnya 'trek Dogon' itu tanpa harus mengandalkan foto blog, video ini memberi konteks etnografis yang jauh lebih dalam ketimbang catatan pelancong, sekaligus merekam kerapuhan yang sejak itu terbukti nyata.

Trekking from Mali plateau to Dogon Country below Bandiagara cliffs

Laporan bergambar dari 3 April 2010 yang mendokumentasikan sisi Sangha — sisi utara-timur falaise, berbeda dari rute Djiguibombo di selatan. Penulis berjalan sekitar dua jam dari Sangha di atas plateau, menembus kanyon sempit berisi petak sawah yang mengering, lalu tiba-tiba tiba di bibir tebing tempat dataran savana Séno terbentang tanpa batas. Suhu tercatat 42 °C dan penulis menekankan perlunya menutup kepala, melindungi kulit, dan minum banyak air. Ia memotret hunian di ceruk batu yang oleh arkeolog diperkirakan berumur sampai 2.350 tahun, dan menjelaskan bahwa dulu ceruk setinggi itu dijangkau dengan tali yang dipilin dari kulit baobab. Di bawah tebing ia menyusuri kampung Dogon dan menjelaskan cara membaca bangunannya: yang beratap daun kering dan menjulang adalah lumbung, yang beratap datar adalah rumah; sebagian lumbung dipahat menyerupai wajah atau tubuh manusia. Ia juga menunjukkan pemakaman kampung, di mana barang milik almarhum disimpan di tingkat bawah sementara jenazah ditempatkan di gua tinggi pada dinding tebing, serta togu-na di tengah kampung. Kolam buaya keramat dekat salah satu kampung ikut terekam. Sekali lagi: ini rekaman 2010, pra-konflik.

The Bandiagara falaise: Hiking amongst the Dogon people

Kisah trek Januari 2008 yang ditulis ulang bertahun kemudian, menyusuri Djiguibombo, Kani-Kombolé, Teli, Endé, Indeli (kampung asal pemandu mereka), sampai Begnimato. Yang membuatnya berharga adalah dua hal. Pertama, deskripsi konkret cara turun tebing: menembus lembah sempit di antara karang terjal, lalu menginap di atap yang hanya bisa dicapai lewat tangga kayu yang sempit, curam, dan reyot. Kedua, dokumentasi upacara topeng di Begnimato — penari berrok rumput warna-warni dengan hiasan lengan, mengenakan topeng berbentuk aneka hewan, diiringi tabuhan drum. Penulis juga menggambarkan hunian tebing yang usianya disebut mencapai dua ribu tahun dan pemukiman yang sebagian besar berasal dari abad ke-11, serta lumbung 'lelaki' dan 'perempuan' sebagai penyimpanan komunal. Penting: penulis sendiri menutup tulisannya dengan peringatan bahwa setahun setelah kunjungan mereka situasi keamanan memburuk cepat, dan kawasan ini tetap tujuan yang sulit dan berisiko untuk dikunjungi.

Dogon Country — Mali

Catatan perjalanan paling rinci yang berhasil kami verifikasi untuk trek sisi selatan falaise. Penulis menyusuri urutan klasik: turun tebing dari Djiguibombo ke Kani-Kombolé untuk malam pertama, lalu Kani-Kombolé → Teli → Endé, disusul Endé → Yaba-Talu → Begnimato di atas tebing, kemudian Begnimato → Dourou → Nombori, dan kembali naik ke Dourou pada hari kelima. Nilainya bukan pada angka jarak — penulis memang jarang menyebut jarak, hanya 'beberapa jam' antar-kampung — melainkan pada penjelasan tentang apa yang dilihat. Ia menerangkan togu-na, balai musyawarah yang atapnya sengaja dibuat rendah supaya orang tak bisa berdiri dan perdebatan tak berubah jadi pertengkaran; lumbung berbentuk kotak beratap jerami kerucut yang ditopang batu dan cabang kayu dengan satu pintu persegi di dekat atap; serta rumah-rumah Tellem yang bertengger seratus meter di dinding vertikal, yang cara pembangunannya masih diperdebatkan — mungkin lewat pohon, mungkin lewat tali dari puncak tebing. Ia juga jujur soal sisi tak romantisnya: panas yang menyiksa sepanjang perjalanan, sakit perut yang merusak beberapa hari, dan angin kencang saat tidur di atap. Perlu ditegaskan bahwa catatan ini pra-konflik dan tidak lagi mencerminkan kondisi lapangan hari ini.

Le Sentier de la Montagne des Singes à Kourou

Ulasan yang menyusun pilihan jalur secara jelas untuk pengunjung yang belum pernah datang. Lokasinya ditegaskan berada di barat daya Kourou di atas lahan milik CNES, dan daya tariknya dirumuskan sebagai perpaduan jalur yang mudah diakses, keanekaragaman hayati, serta panorama regional. Dua opsi dipaparkan berdampingan: jalur botani sepanjang 650 meter yang dinilai mudah dan ramah keluarga, dilengkapi papan edukasi tentang jenis-jenis pohon hutan, serta grande boucle sepanjang 3,9 km dengan beda tinggi yang cukup terasa dan ditujukan bagi pejalan yang lebih berpengalaman, berujung di puncak 161 meter. Soal satwa, tulisan ini menyebut tamarin bertangan emas sebagai primata khas kawasan, ditambah kupu-kupu morpho dan burung-burung tropis. Di puncak terdapat carbet sebagai tempat berteduh sekaligus menikmati pemandangan ke Kourou, garis pantai, dan situs antariksa — dengan catatan khusus bahwa pada hari peluncuran, pemandangan ke arah pangkalan menjadi daya tarik tersendiri. Sarannya praktis: sepatu jalan yang kokoh, air dalam jumlah cukup, perlindungan terhadap serangga, dan memeriksa prakiraan cuaca lebih dulu karena kelembapan di kawasan ini tinggi. Papan penunjuk dan peta di lokasi disebut membantu memilih rute.

Bon Ti Koté
Sumber

Boucle de la Montagne des Singes au départ de Kourou

Entri berbasis jejak GPS yang memberi angka paling terukur untuk jalur ini, sekaligus penilaian paling ketat. Lingkarannya dicatat sepanjang 4,15 km dengan waktu tempuh rata-rata satu jam empat puluh lima menit, pendakian kumulatif +204 m dan penurunan -198 m, serta rentang ketinggian 12 sampai 172 meter. Menariknya, meski jaraknya pendek, Visorando melabeli rute ini sebagai sulit — konsisten dengan kesan pejalan lain bahwa tanjakan beruntun di udara lembap terasa lebih berat daripada yang disiratkan angka 161 meter. Titik awalnya adalah area parkir khusus di Route du Dégrad, sekitar 14 km dari Kourou. Deskripsi rutenya menyusuri sederet titik acuan: pertigaan awal boucle di ketinggian sekitar 30 m, jembatan kayu keempat di 35 m, puncak di Carbet Acacia pada 165 m, lalu pertemuan dengan jalur taman botani di 56 m sebelum kembali ke parkiran. Penanda kuning dan beberapa jembatan kayu membuat jalur mudah diikuti, dengan saran praktis bahwa bila jalur tidak lagi terlihat sebaiknya berbalik untuk menemukannya kembali. Komentar pejalan menyebut kupu-kupu morpho biru dan monyet howler yang jarang terlihat, serta kondisi berlumpur tergantung curah hujan.

Kontributor Visorando
Sumber

Montagne des Singes en Guyane, randonnée

Laporan perjalanan yang lebih menyerupai panduan praktis. Penulis menempatkan bukit ini di barat daya Kourou, sekitar 15 km ke arah Dégrad Saramaca, dan menempuh sirkuit panjang sejauh 3,2 km yang memakan waktu kurang lebih dua jam. Jalurnya melintasi hutan sekunder, beberapa anak sungai, dan zona berawa, dengan penanda arah berupa tanda cat kuning pada batang pohon — detail yang membuat navigasi relatif mudah. Tingkat kesulitannya dinilai sedang: ada beberapa tanjakan dan turunan, tetapi masih cocok untuk kebanyakan pejalan. Rekomendasi perlengkapannya spesifik dan berguna, yaitu sepatu trekking dipadu celana panjang karena adanya bagian berawa, serta persediaan air yang cukup mengingat iklimnya panas dan lembap. Dari sisi satwa, yang benar-benar terlihat adalah kupu-kupu biru yang disebutnya sangat indah, burung kolibri, dan seekor hewan yang tampak seperti tupai; monyet memang ada di kawasan ini tetapi menurutnya butuh mata yang benar-benar terlatih untuk menemukannya. Puncaknya, pada ketinggian 161 meter, dilengkapi carbet dengan panorama ke Kourou, Îles du Salut, Montagne des Pères, dan pusat antariksa CSG beserta area peluncurannya. Kesimpulannya positif: pemandangan hutan tropis yang kaya dengan jalur terawat baik.

Manveru
Sumber