← Kembali ke daftar

GUNUNG · Indonesia

Osu Nondoto

Osu Nando'oto (ejaan lain: Nandoo'to, Nandooto) — juga disebut Gunung Tangkelemboke. "Osu" berarti gunung dalam bahasa Tolaki-Mekongga; awalan itu dipakai pada hampir semua puncak di rangkaian ini (Osu Samabaheoka, Osu Tangkesawua, Osu Anggondara, Osu Napoha).

Sumber

Informasi

Elevasi
2.421 m
Negara
Indonesia (ID)
Lokasi / Pegunungan
Pegunungan Tangkelemboke, Sulawesi Tenggara. Rangkaian ini terpisah dan berbeda dari Pegunungan Mekongga (sekitar 44 km ke arah barat daya) maupun Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (sekitar 122 km ke arah tenggara) — dua kawasan yang kerap tertukar dengannya. Puncak-puncak lain di rangkaian ini: Osu Samabaheoka 2.027 m, Osu Tangkesawua 1.635 m, Osu Anggondara 1.368 m, dan Osu Napoha 1.320 m. Massif ini adalah menara air bagi tiga sungai besar: Sungai Latoma (Aala) yang mengalir ke selatan, Sungai Lasolo ke timur menuju Konawe Utara, dan Sungai Porehu ke utara menuju Kolaka Utara.
Tipe Gunung
Puncak tertinggi Pegunungan Tangkelemboke, sebuah massif karst (batu gamping) non-vulkanik di jantung Sulawesi Tenggara, tepat di perbatasan Kabupaten Konawe dan Konawe Utara. Bukan gunung api: tidak tercantum dalam daftar gunung api Indonesia milik Smithsonian Global Volcanism Program, dan basis data datagunung.com menggolongkannya sebagai gunung non-vulkanik. Tubuh gunungnya berupa batuan gamping dengan sistem gua labirin, jurang, dan tebing curam. Dengan prominensi sekitar 1.235 m (data Gunung Bagging), Osu Nando'oto berdiri sebagai massif yang benar-benar berdiri sendiri — berbeda dari kebanyakan puncak Sulawesi lain yang hanya tonjolan di atas punggungan.
Berapi?
Tidak (non-vulkanik)
Koordinat
-3.3864, 121.5576
Kesulitan
Sangat berat dan bersifat ekspedisi, bukan pendakian akhir pekan. Jalur ke puncak baru dirintis pada 21 Agustus–2 September 2023 oleh sepuluh anggota Mahacala UHO (Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Halu Oleo, Kendari) — menurut Gunung Bagging, tidak ada catatan orang mencapai puncak sebelum ekspedisi itu. Titik start di Desa Nesowi berada pada 200 mdpl, sehingga total kenaikan ke puncak sekitar 2.221 meter. Catatan tim perintis mencantumkan tujuh camp berturut-turut (Camp I dan II di tepi Sungai Latoma, Camp III di punggungan 830 mdpl, lalu 1.200 m, 1.600 m, 2.050 m, dan 2.100 m) — artinya ini perjalanan berhari-hari, bukan pendakian sehari. Ruas awal menyusuri Sungai Aala/Latoma sampai ke hulunya sebelum naik ke punggungan. Air melimpah sampai sekitar Camp III dan menjadi langka di atasnya. Medannya hutan primer di massif karst tanpa jalur mapan; tidak ada penanda, pos jaga, atau warung.
Musim Terbaik
Belum ada rekomendasi musim resmi. Data iklim yang menyertai artikel Wikipedia Cebuano (diturunkan dari basis data iklim global) mencatat suhu rata-rata sekitar 19 °C, bulan terpanas Oktober sekitar 21 °C dan terdingin Juni sekitar 18 °C, dengan curah hujan tahunan sekitar 3.281 mm. Bulan terbasah Juli (sekitar 437 mm) dan terkering Oktober (sekitar 54 mm), sehingga secara statistik periode paling kering jatuh sekitar September–Oktober. Ekspedisi perintis Mahacala UHO sendiri berlangsung akhir Agustus–awal September. Catatan tim juga menyebut ruas jalan kerikil menuju Desa Nesowi rusak dan makin sulit dilalui pada musim hujan.
Izin & Aturan
Tidak ada sistem tiket, kuota, atau retribusi resmi — akses diatur secara informal. Catatan tim perintis dan Gunung Bagging menyebut pendaki perlu melapor ke BASARNAS, ke Polsek Abuki (di Asolu), dan meminta izin kepada pemerintah Desa Nesowi; menginap biasanya di rumah warga atau di rumah kepala desa yang juga berfungsi sebagai camp utama. Rute akses: Kendari → Unaaha (sekitar 1,5 jam) → Asinua (1 jam) → Latoma Jaya (1 jam) → Desa Nesowi (1 jam), aspal lalu kerikil rusak. Status kawasannya adalah kawasan lindung di bawah KPHL Laiwoi (Dinas Kehutanan Sulawesi Tenggara) — bukan cagar alam, suaka margasatwa, atau taman nasional. Simpul puncak berada di dalam poligon hutan lindung yang dipetakan di OpenStreetMap dengan rujukan SK. 465/Menhut-II/2011.
Bahaya
Tidak ada catatan kecelakaan atau operasi SAR yang ditemukan — kemungkinan besar karena sangat sedikit orang yang pernah ke sana. Risiko yang bisa disebut berdasarkan sumber: medan karst dengan jurang, tebing curam, dan sistem gua labirin; hutan primer rapat tanpa jalur bertanda sehingga navigasi sepenuhnya bergantung pada GPS dan pemandu lokal; jarak evakuasi sangat panjang (tujuh camp dari desa terdekat); ketiadaan sumber air di atas Camp III; curah hujan tinggi (sekitar 3.281 mm/tahun) yang membuat penyeberangan Sungai Latoma bisa naik cepat. Laporan ekspedisi 2023 juga mencatat perjumpaan dengan Python reticulatus sepanjang sekitar 7 meter. Ancaman terhadap kawasan — bukan terhadap pendaki — adalah deforestasi dan ekspansi tambang nikel di sekitarnya, yang menjadi alasan utama munculnya usulan status taman nasional.

Deskripsi

Osu Nondoto — yang secara lokal dieja Osu Nando'oto dan kerap disebut Gunung Tangkelemboke — adalah puncak setinggi 2.421 meter di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, dan merupakan puncak tertinggi kedua di provinsi itu setelah Mekongga. Kata "Osu" sendiri berarti gunung dalam bahasa Tolaki-Mekongga, dan awalan itu dipakai berulang di seluruh rangkaian: Osu Samabaheoka (2.027 m), Osu Tangkesawua (1.635 m), Osu Anggondara (1.368 m), Osu Napoha (1.320 m). Ejaan "Nondoto" yang dipakai basis data internasional adalah bentuk lama yang keliru; Gunung Bagging pun mencatat puncak ini "sebelumnya terdaftar sebagai Osu Nondoto". Berbeda dari kebanyakan gunung Indonesia, Osu Nando'oto bukan gunung api. Ia adalah puncak tertinggi sebuah massif karst gamping dengan sistem gua labirin, jurang, dan tebing curam, membentang di perbatasan Kabupaten Konawe dan Konawe Utara. Prominensinya sekitar 1.235 meter, angka yang menjadikannya massif berdiri sendiri dan bukan sekadar tonjolan di atas dataran tinggi. Rangkaian Tangkelemboke berfungsi sebagai menara air bagi tiga sungai besar Sulawesi Tenggara: Latoma (Aala) ke selatan, Lasolo ke timur, dan Porehu ke utara. Perlu ditegaskan karena sering tertukar: gunung ini bukan bagian dari Pegunungan Mekongga (sekitar 44 km ke barat daya) maupun Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (sekitar 122 km ke tenggara). Yang membuat gunung ini menarik adalah usia dokumentasinya yang sangat muda. Jalur ke puncaknya baru dirintis pada 21 Agustus–2 September 2023 oleh sepuluh anggota Mahacala UHO, kelompok pencinta alam Universitas Halu Oleo Kendari, dipimpin Ma'ruf Asraruddin dengan M. Ridwan sebagai penanggung jawab riset dan Asramil Jamil sebagai komandan operasi. Ekspedisi itu berangkat dari Desa Nesowi, Kecamatan Latoma, pada 200 mdpl, menyusuri Sungai Aala Latoma sampai hulu, naik ke punggungan, dan mendirikan tujuh camp berturut-turut sebelum mencapai puncak — total kenaikan sekitar 2.221 meter. Tim itu sendiri menerbitkan catatan koordinat tiap camp di blog mereka, yang sampai kini menjadi satu-satunya panduan jalur yang tersedia untuk publik. Ekspedisi 2023 bukan sekadar pendakian; ia dirancang sebagai survei hayati dari 200 sampai lebih dari 2.400 mdpl. Temuannya mencakup anggrek, kantung semar, begonia, lumut, jamur, dan rotan pada sisi flora, serta anoa dataran tinggi, Macaca nigra, tarsius, musang, berang-berang, rangkong, elang Sulawesi, sidat, ular Python reticulatus sepanjang sekitar tujuh meter, katak, kadal, lebah Apis dorsata, dan beragam kupu-kupu serta burung dataran tinggi pada sisi fauna. Dari sanalah lahir kampanye agar kawasan ini dinaikkan statusnya menjadi cagar alam, suaka margasatwa, atau taman nasional — sebab saat ini kawasannya hanya berstatus kawasan lindung di bawah KPHL Laiwoi. Sejak itu perhatian terhadap Tangkelemboke justru menguat. Yayasan Naturevolution asal Prancis, yang sudah melakukan pra-ekspedisi bersama satu petugas BKSDA Sulawesi Tenggara pada Februari 2023, meluncurkan ekspedisi utama selama empat pekan mulai 17 November 2025 bersama peneliti Universitas Halu Oleo dan relawan internasional, dipimpin Evrard Wendenbaum, untuk mendokumentasikan flora, pohon endemik, dan gua-gua yang belum terjamah. Pada 6 Januari 2026, lanskap seluas sekitar 6.000 km² yang mencakup Sombori, Matarombeo, Tangkelemboke, dan Mekongga resmi diusulkan menjadi taman nasional sekaligus UNESCO Global Geopark dan Cagar Biosfer. Pemerintah provinsi mengonfirmasi kawasan ini belum berstatus kawasan konservasi dan belum ada izin usaha pertambangan aktif di dalamnya — sementara ancaman deforestasi dan ekspansi nikel di sekitarnya terus disebut sebagai alasan mendesaknya perlindungan. Bagi pendaki, konsekuensinya jelas: ini bukan gunung untuk pendakian akhir pekan. Tidak ada tiket, kuota, pos registrasi, penanda jalur, atau warung. Yang ada hanyalah izin informal ke BASARNAS, Polsek Abuki, dan pemerintah Desa Nesowi; menginap di rumah warga; lalu berhari-hari berjalan di hutan primer dengan air yang menipis di atas Camp III. Tidak ada satu pun foto puncak berlisensi bebas yang tersedia, sehingga halaman ini sengaja dibiarkan tanpa foto — dokumentasi visual yang ada hanya berupa video ekspedisi Mahacala UHO yang dirujuk di bagian pengalaman.

Jalur Pendakian

Jalur rintisan Desa Nesowi (Kec. Latoma, Konawe) — via hulu Sungai Aala Latoma

Sangat berat / bersifat ekspedisi — kenaikan ±2.221 m dari 200 mdpl ke 2.421 mdpl, hutan primer tanpa jalur bertanda, navigasi GPS + pemandu lokal
Ekspedisi berhari-hari; tim perintis 2023 menempuh 21 Agustus–2 September 2023 dengan tujuh camp berturut-turut

Satu-satunya jalur ke puncak yang pernah didokumentasikan, dirintis oleh Mahacala UHO (Universitas Halu Oleo, Kendari) pada 21 Agustus–2 September 2023; menurut Gunung Bagging tidak ada catatan orang mencapai puncak sebelum itu. Titik berangkat adalah rumah kepala desa di Desa Nesowi, Kecamatan Latoma, Kabupaten Konawe, pada 200 mdpl, yang juga menjadi camp utama. Ruas awal menyusuri Sungai Aala Latoma ke arah hulu dengan Camp I (3°29'31,78" LS 121°33'50,64" BT) dan Camp II (3°26'58,97" LS 121°34'45,82" BT) di tepi sungai, lalu naik ke punggungan di Camp III pada 830 mdpl (3°24'44,07" LS 121°36'26,16" BT). Dari sana jalur mengikuti punggungan naik bertahap melalui Camp IV 1.200 mdpl (3°24'17,81" LS 121°36'7,19" BT), Camp V 1.600 mdpl (3°23'36,11" LS 121°35'37,75" BT), Camp VI 2.050 mdpl (3°23'12,12" LS 121°34'45,72" BT), dan Camp VII 2.100 mdpl (3°23'23,10" LS 121°33'46,68" BT) sebelum puncak 2.421 mdpl. Air melimpah sampai sekitar Camp III dan menjadi langka di atasnya, sehingga persediaan harus dipikul dari ruas sungai. Akses ke titik berangkat: Kendari → Unaaha sekitar 1,5 jam, lalu Unaaha → Asinua, Asinua → Latoma Jaya, dan Latoma Jaya → Nesowi masing-masing sekitar 1 jam; ruas akhir berupa jalan kerikil rusak yang memburuk pada musim hujan. Perizinan bersifat informal: lapor ke BASARNAS, ke Polsek Abuki di Asolu, dan minta izin ke pemerintah Desa Nesowi; penginapan di rumah warga. Tidak ada penanda jalur, pos jaga, warung, maupun mekanisme pertolongan di sepanjang rute.

Pengalaman Pendakian

Pengalaman pendakian di Osu Nando'oto praktis berasal dari satu peristiwa: ekspedisi rintisan jalur oleh Mahacala UHO (Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Halu Oleo, Kendari) pada 21 Agustus–2 September 2023. Menurut Gunung Bagging, sebelum itu tidak ada catatan orang yang mencapai puncaknya. Semua sumber pengalaman yang tersedia — dua tulisan tim di blog mereka sendiri dan empat video — berasal dari ekspedisi tersebut atau meliput langsung kegiatannya. Gambaran yang muncul konsisten dan penting untuk menyetel harapan. Ini bukan pendakian akhir pekan melainkan perjalanan berhari-hari melalui hutan primer. Titik start di Desa Nesowi, Kecamatan Latoma, berada pada 200 mdpl, sehingga kenaikan total ke puncak sekitar 2.221 meter — lebih besar daripada kebanyakan gunung populer di Jawa. Tim mendirikan tujuh camp: Camp I dan II di tepi Sungai Latoma, Camp III di punggungan 830 mdpl, lalu berturut-turut pada 1.200 m, 1.600 m, 2.050 m, dan 2.100 m. Ruas awal menyusuri Sungai Aala Latoma sampai hulunya sebelum naik ke punggungan di Camp III. Air melimpah di ruas sungai dan menjadi langka setelah Camp III — catatan yang berulang di sumber-sumber Indonesia. Akses ke titik start pun bagian dari perjalanan: Kendari → Unaaha sekitar 1,5 jam, Unaaha → Asinua sekitar 1 jam, Asinua → Latoma Jaya sekitar 1 jam, lalu Latoma Jaya → Desa Nesowi sekitar 1 jam, dengan ruas akhir berupa jalan kerikil rusak yang makin sulit di musim hujan. Perizinan bersifat informal namun jelas: lapor ke BASARNAS, ke Polsek Abuki di Asolu, dan minta izin ke pemerintah Desa Nesowi; menginap di rumah warga atau rumah kepala desa yang berfungsi sebagai camp utama. Satu hal yang membedakan ekspedisi ini dari pendakian biasa adalah tujuannya. Perjalanan dirancang sebagai survei hayati dari 200 sampai lebih dari 2.400 mdpl, dan hasilnya menjadi bahan kampanye agar kawasan Tangkelemboke — yang saat itu hanya berstatus kawasan lindung di bawah KPHL Laiwoi — dinaikkan menjadi cagar alam, suaka margasatwa, atau taman nasional. Temuan yang mereka laporkan mencakup anggrek, kantung semar, begonia, lumut, jamur, dan rotan, serta anoa dataran tinggi, Macaca nigra, tarsius, musang, berang-berang, rangkong, elang Sulawesi, sidat, ular Python reticulatus sepanjang sekitar tujuh meter, katak, kadal, lebah Apis dorsata, dan beragam kupu-kupu dan burung dataran tinggi. Catatan penting bagi siapa pun yang tergoda mengikutinya: tidak ada jalur bertanda, pos jaga, warung, atau mekanisme pertolongan di sepanjang rute; navigasi bergantung pada GPS dan pemandu setempat; dan jarak evakuasi dari camp tertinggi ke desa terdekat sangat panjang. Dokumentasi visual yang ada seluruhnya berupa video ekspedisi — tidak ada satu pun foto puncak berlisensi bebas.

Rujukan

Ringkasan di atas dirangkum dari sumber-sumber berikut. Klik untuk menelusuri sendiri.

  1. 1 Wikipedia Pegunungan Tangkelemboke — daftar puncak (Osu Nando'oto 2.421 m tertinggi), massif karst, menara air Sungai Latoma/Lasolo/Porehu id.wikipedia.org · ID
  2. 2 Wikipedia Latoma, Konawe — kecamatan tempat Desa Nesowi (titik start pendakian) berada id.wikipedia.org · ID
  3. 3 Wikipedia Osu Nondoto — 2.421 m, titik tertinggi di sekitarnya, curah hujan 3.281 mm/tahun, suhu rata-rata 19 °C ceb.wikipedia.org · CEB
  4. 4 Wikidata Osu Nondoto (Q25279260) — mountain in Indonesia, P625 -3,3864/121,5576, GeoNames ID 6967400 wikidata.org · EN
  5. 5 Ensiklopedia Osu Nando'oto — 2.421 m, prominensi 1.235 m, Ribu ID 69130; catatan bahwa puncak sebelumnya terdaftar sebagai "Osu Nondoto" dan belum pernah dicapai sebelum ekspedisi 2023 gunungbagging.com · EN
  6. 6 Ensiklopedia The Sulawesi Tenggara karsts — empat massif (termasuk Tangkelemboke) melindungi hutan primer utuh terluas di Sulawesi naturevolution.org · EN
  7. 7 Ensiklopedia Informasi Gunung Tangkelemboke — 2.421 mdpl, non-vulkanik, catatan ketersediaan air datagunung.com · ID
  8. 8 Ensiklopedia Daftar gunung api Indonesia — Tangkelemboke/Nando'oto TIDAK tercantum (pengecekan negatif: bukan gunung api) volcano.si.edu · EN
  9. 9 Ensiklopedia Node 1070155169 — natural=peak, name=Osu Nondoto, gns:dsg=MT, source=NGA-GNS openstreetmap.org · EN
  10. 10 Ensiklopedia Relasi 8426901 — poligon hutan lindung ("HL", leisure=nature_reserve) yang memuat koordinat puncak; deskripsi merujuk SK. 465/Menhut-II/2011 openstreetmap.org · EN
  11. 11 Ensiklopedia Elevasi model medan Copernicus pada koordinat puncak: 2.392 m (pembanding terhadap 2.421 m dari GeoNames/Gunung Bagging) api.open-meteo.com · EN
  12. 12 Blog Jalur Pendakian menuju Puncak Nandoo'to 2.421 mdpl — koordinat Camp I–VII, start Desa Nesowi 200 mdpl, rute akses & perizinan (sumber primer tim perintis) mahacalauhocom.wordpress.com · ID
  13. 13 Blog Eksplorasi Pegunungan Tangkelemboke 2023 — catatan ekspedisi rintisan jalur mahacalauhocom.wordpress.com · ID
  14. 14 news Mahacala UHO Eksplorasi Fauna dan Flora Pegunungan Tangkelemboke Konawe (17 Sep 2023) — nama anggota tim, temuan flora-fauna, status kawasan lindung KPHL Laiwoi bentaratimur.id · ID
  15. 15 news Ekspedisi Naturevolution Prancis di Tangkelemboke (18 Nov 2025) — 4 pekan, dipimpin Evrard Wendenbaum, ancaman deforestasi & tambang lajur.co · ID
  16. 16 news Karst Sulawesi Tenggara Diusulkan Jadi Taman Nasional (7 Jan 2026) — lanskap 6.000 km² Sombori–Matarombeo–Tangkelemboke–Mekongga mongabay.co.id · ID
  17. 17 news Ancaman Ekspansi Nikel di Konut (5 Jan 2026) — konfirmasi Wagub Sultra: kawasan belum berstatus konservasi, belum ada IUP aktif kendariinfo.com · ID
  18. 18 news Naturevolution Mulai Pra-Ekspedisi Tangkelemboke–Matarombeo — 4 peneliti + 1 petugas BKSDA Sultra, 15 hari, survei ±200 km sungai haluanrakyat.com · ID