GUNUNG · Grenada
Mount Saint Catherine
Sumber
Foto: sumber
—
- Terasa
- —
- Kelembapan
- —
- Angin
- —
Sumber: Open-Meteo
Informasi
- Elevasi
- 840 m
- Negara
- Grenada (GD)
- Lokasi / Pegunungan
- Kompleks volkanik Mount St. Catherine, Busur Volkanik Antilles Kecil — di perbatasan Paroki Saint Mark dan Saint Andrew, bagian utara Pulau Grenada, di dalam Mount St. Catherine Forest Reserve
- Tipe Gunung
- Stratovolkano yang sudah lapuk berat, dengan kompleks kubah lava di dalam kawah tapal kuda selebar sekitar 1,5 km yang terbuka ke arah timur. Global Volcanism Program mendaftarkannya sebagai gunung api komposit dengan bentang lahan tambahan berupa kubah lava, kawah letusan, dan kerucut piroklastik; batuannya andesit, andesit basaltik, trakibasal, basanit, basal, dan dasit. Karena berdiri sendiri di ujung utara pulau dan hampir seluruh reliefnya naik dari permukaan laut, prominensinya sama dengan ketinggiannya: 840 m.
- Berapi?
- Ya — gunung berapi
- Koordinat
- 12.1622, -61.6753
- Kesulitan
- Pendakian terberat di Grenada, tetapi beratnya bukan karena ketinggian melainkan karena medan hutan hujan. Jalurnya tidak dirawat, tidak berpapan penunjuk resmi, sangat rimbun, dan hampir selalu berlumpur — bahkan pada puncak musim kering. Sebagian besar rombongan menghabiskan sekitar 4–5 jam untuk perjalanan pulang-pergi dari jalur terpendek, dan seharian penuh bila menempuh traverse Paraclete–Victoria. Bagian tersulit adalah pendakian curam menjelang puncak: pendaki berpegangan pada akar dan batang pohon, dan di beberapa titik ada tali atau kabel bantu. SummitPost menilai rute traverse-nya sebagai "Class 3 Jungle". Kebugaran kardio bagus dan kesediaan berlumur lumpur jauh lebih penting daripada keterampilan teknis.
- Musim Terbaik
- Musim kering, kira-kira pertengahan Desember sampai awal Mei, dengan Februari–April sebagai bulan terkering dan paling banyak direkomendasikan. Perlu diingat bahwa di pegunungan Grenada tidak ada musim yang benar-benar kering: hujan tetap turun hampir setiap hari di ketinggian, dan jalurnya tetap basah dan berlumpur sepanjang tahun — musim kering hanya membuatnya sedikit kurang parah. Musim badai Atlantik (Juni–November) menambah risiko hujan deras, longsor, dan pohon tumbang. Berangkat sepagi mungkin: awan biasanya mulai menutup puncak menjelang siang, sehingga peluang mendapat panorama terbuka paling besar pada pagi hari.
- Izin & Aturan
- Tidak ada sistem izin pendakian resmi maupun pos tiket di kaki Mount Saint Catherine sendiri — kawasan ini berstatus forest reserve, bukan taman nasional berkarcis seperti Grand Etang (yang memungut EC$5,34 atau sekitar USD 2 di pusat pengunjungnya). Yang berlaku di lapangan adalah norma praktis, bukan regulasi: hampir semua sumber, termasuk operator tur lokal dan panduan pendakian Grenada, menyatakan pemandu lokal wajib atau sangat dianjurkan karena jalurnya tak bertanda dan mudah hilang. Tarif pemandu berkisar sekitar USD 75–100 per rombongan menurut panduan pendakian Grenada, sementara operator seperti Henry Safari Tours menjual paket pendakian ini pada kisaran USD 70–150 per orang tergantung jumlah peserta dan sudah termasuk biaya masuk. Sebagian jalur pendekatan melintasi tanah pertanian dan perkebunan pala/kakao milik warga, jadi minta izin lewat adalah kebiasaan yang sopan. Bawa uang tunai pecahan kecil dalam dolar Karibia Timur (XCD).
- Bahaya
- Lumpur adalah bahaya nomor satu dan bukan lelucon: hampir setiap catatan pendakian melaporkan terpeleset berulang kali, merangkak, dan meluncur di tanah liat basah. Kedua, disorientasi — jalurnya tak bertanda resmi, hanya pita merah-kuning dan panah yang dipahat di batang pohon di sisi Victoria, dan bagian yang terlalu rimbun bisa menyembunyikan jalur sepenuhnya; catatan lapangan 2016 di sisi Victoria menyebut beberapa longsoran yang menghapus jalur lama sehingga rombongan berpemandu pun sempat tersesat dan harus mencari-cari kembali. Ketiga, razor grass (rumput silet) yang menyayat kulit ke arah mana pun ia tersentuh — celana panjang wajib dan baju lengan panjang sangat dianjurkan. Keempat, panas dan kelembapan tropis dikombinasikan dengan hampir tidak adanya sumber air aman di jalur, sehingga seluruh kebutuhan minum harus dibawa sendiri. Kelima, medan curam berakar dengan tebing di beberapa sisi, ditambah tali dan kabel bantu yang kondisinya tidak dijamin siapa pun; dua tangan harus bebas. Keenam, nyamuk dan serangga di lembah-lembah lembap. Ketujuh, awan: puncak sering tertutup kabut, sehingga banyak pendaki tiba di atas tanpa pemandangan sama sekali. Terakhir, faktor volkanik — Mount St. Catherine adalah satu-satunya pusat volkanik Grenada yang dianggap masih hidup, dan skenario paling mungkin di masa depan menurut lembaga pemantau adalah letusan freatik (semburan uap) dari fumarol di lerengnya, bukan letusan magmatik besar.
Deskripsi
Mount Saint Catherine (840 mdpl) adalah titik tertinggi Grenada sekaligus gunung api termuda dari lima pusat volkanik yang membentuk pulau itu. Ia berdiri di ujung utara pulau, tepat di perbatasan Paroki Saint Mark dan Saint Andrew, dan karena hampir seluruh reliefnya naik langsung dari permukaan laut, prominensinya persis sama dengan ketinggiannya — menjadikannya puncak paling dominan di seluruh negeri. Secara geologi ia adalah stratovolkano yang sudah terlapuk berat. Di puncaknya terdapat kompleks kubah lava yang duduk di dalam kawah tapal kuda selebar sekitar 1,5 kilometer yang jebol ke arah timur, dan endapan aliran piroklastik dari letusan Pleistosen membentang ke arah barat laut. Global Volcanism Program mencatat "Last Known Eruption: Unknown" — tidak ada letusan Holosen yang diketahui, dan gunung ini kemungkinan besar belum meletus sejak zaman es terakhir. Meski begitu, dari lima pusat volkanik Grenada, hanya Mount St. Catherine yang dianggap masih "hidup", justru karena morfologinya relatif terjaga dan karena mata air panas serta fumarol masih aktif di lereng-lerengnya. Manifestasi panas bumi itu tersebar di Hapsack Hall, Tufton Hall, Mount Ellington, Peggy's Whim, River Sallee, dan Lavez Chaud, dan sistem panas bumi bertemperatur tinggi di bawah gunung ini pernah diperkirakan melampaui 240 °C di kedalaman. Aktivitas seismik di kawasan dipantau Seismic Research Centre Universitas Hindia Barat. Gunung ini dilindungi sebagai Mount St. Catherine Forest Reserve seluas 934 hektare dengan keliling batas 31,7 km — kawasan lindung darat terbesar kedua di Grenada setelah Grand Etang dan Annandale. Vegetasinya bertingkat mengikuti ketinggian: hutan hujan dataran rendah dengan tajuk 25–30 meter di bawah, lalu hutan awan pegunungan bawah yang berlumut tebal, dan akhirnya elfin forest serta hutan palem Sierra yang kerdil dan basah menjelang puncak. Kawasan ini adalah hulu bagi tujuh daerah aliran sungai utama, dan di dalamnya terdapat Air Terjun Tufton Hall — yang tertinggi di Grenada — serta mata air panas Hapsack dan belerang Clabony. Di lereng bawahnya, monyet mona, oposum, armadilo, dan puluhan jenis burung masih ditemukan; di batas kawasan, hutan berganti menjadi kebun pala dan kakao milik warga. Dari sisi pendakian, reputasi Mount Saint Catherine sangat konsisten: inilah pendakian terberat dan paling kotor di Grenada. Puncaknya bisa dicapai lewat tiga rute kasar yang menyeberangi hutan lindung — dari Mt. Horne di tenggara, Mt. Kublal di timur laut, dan Tufton Hall di barat laut. Ketiganya berupa lorong sempit di dalam hutan yang sangat rimbun, licin, dan hampir selalu berlumpur. Tidak ada papan penunjuk resmi; penanda yang ada hanya pita kain merah dan kuning yang diikat di pohon serta panah yang dipahat di batang. Menjelang puncak, kemiringan berubah ekstrem dan pendaki naik dengan berpegang pada akar dan batang, dengan tali atau kabel bantu di beberapa titik. Di atas menunggu sebuah menara komunikasi tua yang berkarat dan tidak terpakai lagi — pemandangan yang oleh sebagian pendaki disebut merusak suasana — serta, bila awan sedang berbaik hati, panorama 360 derajat ke kedua pesisir Grenada sekaligus. Yang membuat gunung ini menarik justru kontrasnya. Ketinggiannya hanya 840 meter, kurang dari sepertiga gunung-gunung besar Indonesia, tetapi kombinasi kelembapan tropis, lumpur yang tak pernah kering, razor grass yang menyayat, dan jalur yang bisa hilang dalam semalam setelah longsor membuatnya terasa jauh lebih menuntut daripada angkanya. Setelah badai — jalur ini dilaporkan tidak pernah direkonstruksi seperti jalur-jalur di sekitar Mount Qua Qua — kondisinya bisa memburuk dan bertahan buruk selama bertahun-tahun. Karena itu hampir semua pihak, dari operator tur sampai pendaki berpengalaman yang menuliskan catatannya, sampai pada kesimpulan yang sama: bawa pemandu lokal, berangkat pagi-pagi sekali, dan terima kenyataan bahwa Anda akan turun dalam keadaan basah kuyup dan berlumur lumpur.
Galeri
Foto bersumber dari Wikimedia Commons — klik untuk memperbesar & lihat sumbernya.
Jalur Pendakian
Sisi barat laut — Victoria / Diamond Estate (jalur pita merah-kuning)
Berat; jalur tak bertanda resmi, sangat berlumpur, beberapa bagian terhapus longsor — pemandu sangat dianjurkanPendekatan dari pesisir barat, dan yang paling sulit dinavigasi. Berkendara ke kota Victoria lalu masuk ke pedalaman ke arah Diamond Chocolate Factory. Peta jalan di kawasan ini membingungkan; bila jalan bercabang, ambil ke kanan. Setelah melewati instalasi pengolahan air, ikuti jalan naik ke kiri dan parkir tepat setelah sebuah rumah semen terbengkalai di bawah pohon jambu bol yang digantungi sepatu — patokan lokal yang aneh tapi konsisten disebut. Dari situ, naiki jalan tanah ke kiri sampai habis, lalu jalur setapak menuju puncak dimulai. Satu-satunya penanda adalah pita kain merah dan kuning yang diikat di pohon, ditambah beberapa panah yang dipahat di batang. Jalur ini sangat mudah hilang, dan parang kadang diperlukan untuk membuka tumbuhan yang menutup. Catatan lapangan dari April 2016 menyebut sebagian besar jalur lama di sisi ini telah terhapus oleh longsoran, sehingga rombongan harus memutar lewat garis alternatif — dan bahkan rombongan berpemandu pun sempat kehilangan jalur beberapa kali dan harus mencari ulang. Karena itu, meski secara teknis rute ini bisa dilakukan sendiri, hampir semua sumber menyarankan menyewa pemandu lokal; panduan pendakian Grenada bahkan menyebutnya wajib, dengan tarif sekitar USD 75–100 per rombongan. Medannya sangat licin di banyak tempat, dengan lumpur dalam dan akar-akar melintang, dan bagian bawahnya melewati kebun-kebun warga sebelum masuk hutan. Monyet mona kerap terlihat di lereng bawah sisi ini. Waktu terbaik adalah April, menjelang akhir musim kering, ketika jalurnya paling sedikit berlumpur — meskipun, seperti diingatkan berulang kali, jalur ini tidak pernah benar-benar kering. Berkemah tidak disarankan. Tidak ada pos tiket atau izin resmi, tetapi sebagian jalur melintasi lahan pertanian milik warga, jadi sikap sopan dan uang tunai pecahan kecil dalam dolar Karibia Timur perlu disiapkan.
SumberTraverse Paraclete → puncak → Victoria (lintas pulau, satu hari penuh)
"Class 3 Jungle" menurut SummitPost; hiking, mountaineering, dan scrambling — pemandu sangat dianjurkan untuk sisi turunnyaMenggabungkan kedua rute di atas menjadi lintasan menyeberangi pulau: naik dari Paraclete di timur, melewati puncak, lalu turun sampai dekat pesisir barat di Victoria. Karena titik akhirnya berbeda dari titik awal, angkutan umum justru lebih praktis daripada mobil pribadi. Dari terminal bus di St. George's, ambil Bus 6 ke Grenville — sekitar satu jam — lalu bus lain ke Paraclete. Dari Paraclete bisa berjalan kaki, atau membayar sopir sedikit lebih untuk diantar ke Blaize dan sebagian jalan beton menuju stasiun Cable and Wireless. Untuk pulang, beberapa bus per hari melayani Victoria dari terminal St. George's, sebagian melanjutkan sampai Diamond Estate dan Tufton Hall Estate; tumpangan di sepanjang jalan biasanya bisa didapat, dan bila tidak, sisanya bisa dijalani. Bagian naik mengikuti rute menara Mount Hope: naik-turun curam dan berlumpur, razor grass, sedikit membuka jalan, kabel bantu di beberapa tempat, dan bagian tercuram tepat sebelum puncak. Pendaki hutan berpengalaman umumnya bisa mencapai puncak dari sisi ini tanpa pemandu. Yang berubah total adalah sisi turunnya. Dari puncak, jalur yang sangat licin menuju timur laut dengan Victoria terlihat di kejauhan; jalur inilah yang paling banyak rusak. Beberapa longsoran menghapus jalur lama dan harus dilewati lewat garis alternatif, ada bagian yang menuntut berbalik arah dan mencari ulang, dan lumpurnya dalam sepanjang penurunan. Akhirnya jalur keluar ke kebun-kebun warga, lalu ke jalan raya yang diikuti terus menurun ke arah Diamond Estate. Penulis catatan rute ini menegaskan bahwa jalur di sini tampaknya tidak pernah direkonstruksi atau dirawat setelah badai, berbeda dari jalur-jalur di sekitar Mount Qua Qua yang sudah diperbaiki. Ia juga mencari jalur alternatif dari Mount Horne Road dan tidak menemukan tandanya. Perlengkapan yang ia tekankan untuk traverse ini: parang, celana panjang, baju lengan panjang, peta yang bagus bila tanpa pemandu, headlamp untuk berjaga-jaga karena rombongannya sendiri baru selesai menjelang gelap, tongkat jalan, sepatu yang siap basah sepanjang hari, dan satu setel pakaian ganti di dalam tas — sebab Anda akan pulang berlumur lumpur dan mungkin harus naik bus dalam keadaan itu. Rute ini hanya untuk musim kering, dengan Februari sampai April sebagai bulan terkering, disusul Desember dan Januari; bahkan pada musim terkering pun hujan tetap hampir setiap hari di ketinggian.
SumberPengalaman Pendakian
Catatan pendakian Mount Saint Catherine dari berbagai penulis bertemu pada enam hal yang sama. Pertama, lumpur. Tidak ada satu pun catatan yang tidak menyebutnya: tanah liat basah yang membuat pendaki terpeleset berulang kali, merosot dengan pantat menyentuh tanah, dan sampai di puncak dalam keadaan kotor total. Bahkan pada Maret dan April — bulan terkering — jalurnya tetap basah. Kedua, jalur yang hilang. Tidak ada papan penunjuk resmi; penanda hanya pita kain merah dan kuning di pohon serta panah yang dipahat di batang di sisi Victoria, dan bagian yang terlalu rimbun bisa menutup jalur sama sekali. Karena itu hampir semua penulis merekomendasikan pemandu lokal, dan panduan pendakian Grenada bahkan menyebutnya wajib untuk rute ini. Ketiga, razor grass. Rumput bergerigi yang menyayat kulit ke arah mana pun ia tersentuh, menjadi cedera paling sering dilaporkan — celana panjang wajib dan baju lengan panjang berulang kali disesali karena tidak dibawa. Keempat, karakter tanjakan akhir: satu jam terakhir menuju puncak sangat curam, pendaki menarik badan dengan berpegang pada akar dan batang, dan ada tali atau kabel bantu di beberapa titik, sehingga kedua tangan perlu bebas. Kelima, awan. Puncak sering tertutup kabut sehingga banyak yang tiba tanpa pemandangan; satu-satunya cara memperbesar peluang panorama 360 derajat ke kedua pesisir adalah berangkat sepagi mungkin dan memilih hari yang cerah sejak dari bawah, saat puncaknya masih terlihat dari jalan. Keenam, waktu tempuh: sekitar 4–5 jam pulang-pergi dari rute pendek, dan seharian penuh bila menempuh traverse Paraclete–Victoria dengan angkutan umum. Perlengkapan yang paling sering diulang: sepatu bertapak dalam yang siap dikorbankan, celana dan lengan panjang, tongkat jalan, minimal satu sampai dua liter air karena tidak ada air aman di jalur, losion antinyamuk, jas hujan ringan, dan satu setel pakaian ganti untuk perjalanan pulang.
Rujukan
Ringkasan di atas dirangkum dari sumber-sumber berikut. Klik untuk menelusuri sendiri.
- 1 Wikipedia Mount Saint Catherine (Grenada) en.wikipedia.org · EN
- 2 Wikipedia Mount St. Catherine Forest Reserve en.wikipedia.org · EN
- 3 Wikidata Mount Saint Catherine (Q525281) wikidata.org · EN
- 4 Situs Resmi Grand Etang National Park & Forest Reserve puregrenada.com · EN
- 5 Situs Resmi Mt. St. Catherine Hike henrysafari.com · EN
- 6 Ensiklopedia St. Catherine — Global Volcanism Program volcano.si.edu · EN
- 7 Ensiklopedia Mt. St. Catherine, Grenada internationalparks.org · EN
- 8 Ensiklopedia Mount Saint Catherine peakvisor.com · EN
- 9 Ensiklopedia Mount Saint Catherine : Climbing, Hiking & Mountaineering summitpost.org · EN